Pendahuluan : Stunting merupakan kondisi balita yang memiliki tinggi badan lebih rendahdibandingkan umur berdasarkan indikator TB/U. Salah satu faktor yang diduga berhubungan denganstunting adalah asupan energi dan protein yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh balita. Tujuan :mengetahui hubungan asupan energi dan protein dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulandi Desa Bekonang, Sukoharjo. Metode : Penelitian menggunakan desain observasional denganpendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 92 balita yang diambil menggunakan teknikproportional random sampling. Data asupan energi dan protein diperoleh melalui wawancara langsungkepada ibu balita menggunakan formulir food recall 3×24 jam selama 3 hari tidak berurutan, sedangkandata stunting diperoleh melalui pengukuran tinggi badan dan umur menggunakan indikator Z-scoreTB/U menurut Permenkes 2020. Analisis data menggunakan uji Pearson Product Moment dan RankSpearman’s rho. Hasil : Sebagian besar balita memiliki status gizi normal (81,5%), sedangkan balitastunting sebesar 18,5%. Sebanyak 92,4% balita memiliki asupan energi kurang dan 91,3% memilikiasupan protein lebih. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara asupanenergi (p=0,417) dan asupan protein (p=0,126) dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan.Simpulan : Asupan energi dan protein tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadianstunting pada balita usia 24–59 bulan di Desa Bekonang, Sukoharjo.
Copyrights © 2026