Pendahuluan: Masa remaja merupakan fase transisi dari masa anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan. Pada periode ini remaja memiliki kerentanan tinggi terhadap masalah kesehatan mental akibat tuntutan perkembangan dan tekanan lingkungan. Data World Health Organization (WHO) serta laporan nasional menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional di Indonesia mencapai 9,8%, yang menandakan kesehatan mental remaja menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian. Salah satu faktor risiko yang berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja adalah perilaku bullying, yaitu tindakan agresif yang dilakukan secara berulang dan dapat menimbulkan dampak psikologis serius. Data nasional menunjukkan angka kejadian bullying di Indonesia, khususnya pada tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), mencapai 66,1% dengan bentuk paling dominan berupa kekerasan psikologis. Di Kota Bandar Lampung sendiri tercatat sebanyak 93 kasus bullying pada siswa SMP, yang menunjukkan perlunya analisis lebih mendalam terkait dampaknya terhadap kesehatan mental remaja. Tujuan: Diketahui hubungan perilaku bullying dengan kesehatan mental siswa di SMP Negeri 1 Bandar Lampung. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada siswa SMP Negeri 1 Bandar Lampung, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara perilaku bullying dan kesehatan mental. Hasil: Hasil analisis Chi-Square menunjukan adanya hubungan perilaku bullying dengan kesehatan mental depresi (p=0,001) < α (0,05), kecemasan (p=0,001) < α (0,05), dan stress (p=0,001) < α (0,05). Kesimpulan: Hal ini menunjukan adanya hubungan perilaku bullying dengan kesehatan mental depresi (p=0,001) < α (0,05), kecemasan (p=0,001) < α (0,05), dan stress (p=0,001) < α (0,05).
Copyrights © 2026