Emotional eating merupakan perilaku makan yang banyak ditemukan pada remaja dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, seperti pola makan yang tidak sehat dan peningkatan berat badan. Perilaku ini ditandai dengan kecenderungan mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi negatif dibandingkan rasa lapar fisiologis. Salah satu faktor yang berperan dalam munculnya emotional eating adalah tingkat stres. Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami stres akibat berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial selama masa perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat stres dengan perilaku emotional eating pada remaja di SMA Negeri 7 Kota Gorontalo. Studi ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 163 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Tingkat stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), sedangkan emotional eating diukur menggunakan Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ). Hasil uji bivariat menggunakan uji Spearman Rank . Mayoritas responden mengalami tingkat stres sedang (36,2%) dan perilaku emotional eating tinggi (38,7%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan perilaku emotional eating (p = 0,002; r= 0,469) dengan kekuatan korelasi sedang dan arah hubungan positif. Terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dan perilaku emotional eating pada remaja di SMA Negeri 7 Kota Gorontalo.
Copyrights © 2026