Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) melalui penyuluhan pertanian berkelanjutan di Desa Dombu, Kecamatan Marawola Barat, Kabupaten Sigi. Permasalahan utama yang dihadapi petani adalah rendahnya pemahaman terhadap praktik pertanian yang baik, yang ditandai dengan penggunaan input kimia yang tidak tepat dan belum optimalnya pengelolaan usaha tani. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan penyuluhan, dan evaluasi. Materi penyuluhan mencakup pengenalan konsep GAP, teknik pemupukan berimbang berbasis analisis tanah, pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu, serta teknik panen dan pascapanen yang baik. Penyuluhan dilakukan melalui metode ceramah interaktif dan diskusi kelompok. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan petani. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pengetahuan petani dari 39,7 menjadi 68,5 dengan persentase peningkatan sebesar 72,8%. Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek pengelolaan hama terpadu, sedangkan terendah pada aspek panen dan pascapanen. Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan pertanian berbasis GAP efektif dalam meningkatkan pemahaman petani dan berpotensi mendorong penerapan praktik pertanian yang berkelanjutan. Implementation of Good Agricultural Practices (GAP) through Sustainable Agricultural Extension in Dombu Village, Marawola Barat District, Sigi Regency Abstract This community service activity aimed to improve farmers’ knowledge in implementing Good Agricultural Practices (GAP) through sustainable agricultural extension in Dombu Village, Marawola Barat District, Sigi Regency. The main problem faced by farmers was the limited understanding of proper agricultural practices, indicated by the inappropriate use of chemical inputs and suboptimal farm management. The implementation method consisted of preparation, extension activities, and evaluation stages. The extension materials included the introduction to GAP concepts, balanced fertilization techniques based on soil analysis, integrated pest management (IPM), and proper harvesting and post-harvest techniques. The extension was delivered through interactive lectures and group discussions. Evaluation was conducted using pre-test and post-test to measure the improvement of farmers’ knowledge. The results showed that the average knowledge score increased from 39.7 to 68.5, with an improvement percentage of 72.8%. The highest improvement was observed in integrated pest management, while the lowest was in harvesting and post-harvest aspects. These findings indicate that GAP-based agricultural extension is effective in enhancing farmers’ understanding and has the potential to promote sustainable agricultural practices.
Copyrights © 2026