Penelitian ini mengkaji strategi positioning kelembagaan yang dibangun Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) melalui program standardisasi dan sertifikasi khatib, serta menelaah relevansinya bagi penguatan dakwah moderat dan ekonomi umat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan yang dilengkapi analisis dokumen atas publikasi program, pemberitaan, dan literatur ilmiah terkait. Data dianalisis dengan analisis isi menggunakan kerangka teori positioning, yang dioperasionalkan ke dalam empat dimensi, yaitu segmen sasaran, titik kesamaan, titik pembeda, dan bukti pendukung. Hasil analisis menunjukkan bahwa LD PBNU memosisikan diri bukan sebagai pemberi izin berkhutbah, melainkan sebagai pembina kompetensi yang bertumpu pada tradisi keilmuan pesantren dan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Titik pembeda tersebut memisahkannya dari sertifikasi yang berbasis otoritas administratif negara maupun otoritas fatwa, sekaligus meredam kekhawatiran publik terhadap kontrol politik atas mimbar. Adapun keterkaitan sertifikasi dengan penguatan ekonomi umat diposisikan sebagai proposisi teoretis dan bukan temuan empiris: sertifikasi berpotensi menautkan legitimasi kompetensi dengan kepercayaan publik, peluang penugasan, dan penataan honorarium, namun rantai tersebut masih memerlukan pengujian lapangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sertifikasi khatib berfungsi ganda, yakni sebagai pengendali mutu dakwah sekaligus penanda posisi kelembagaan, dengan tantangan utama berupa resistensi sosial, keterbatasan sumber daya, dan persepsi komersialisasi dakwah.
Copyrights © 2026