Perkembangan ilmu pengetahuan pada era Society 5.0 telah mendorong kemajuan teknologi yang signifikan, tetapi juga memunculkan fenomena desakralisasi ilmu pengetahuan akibat semakin terpisahnya ilmu dari nilai-nilai transendental. Kondisi ini menuntut hadirnya paradigma epistemologis yang mampu mengintegrasikan wahyu, akal, dan ilmu pengetahuan secara harmonis. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep istiqamah dalam QS. Fushshilat ayat 30 berdasarkan perspektif Fakhr ad-Din al-Razi serta mengkaji relevansinya sebagai penyeimbang desakralisasi ilmu pengetahuan pada era Society 5.0. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Data primer berupa QS. Fushshilat ayat 30 dan Mafātīḥ al-Ghayb karya Fakhr ad-Din al-Razi, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui content analysis dengan pendekatan deskriptif-analitis dan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Fakhr ad-Din al-Razi, istiqamah tidak hanya bermakna keteguhan dalam keimanan, tetapi juga mencerminkan konsistensi dalam menyelaraskan wahyu, rasionalitas, dan tindakan etis. Perspektif tersebut menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana memperoleh kebenaran sekaligus membangun tanggung jawab moral dan spiritual. Revitalisasi istiqamah menawarkan paradigma integratif yang mampu mengembalikan orientasi ilmu kepada nilai-nilai tauhid, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya berorientasi pada inovasi dan kemajuan material, tetapi juga pada keadilan, kemaslahatan, dan kesejahteraan manusia. Temuan ini menegaskan bahwa konsep istiqamah memiliki relevansi konseptual dalam membangun paradigma keilmuan Islam yang holistik untuk menjawab tantangan desakralisasi ilmu pengetahuan pada era Society 5.0.
Copyrights © 2026