Pengendalian pertumbuhan penduduk merupakan salah satu isu penting dalam pembangunan kesehatan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Keberhasilan program KB tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti karakteristik individu, sosial ekonomi, serta kondisi lingkungan tempat tinggal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan penggunaan keluarga berencana (KB) pada pasangan usia subur di wilayah perairan. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 87 responden dengan Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Variabel yang diteliti meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, dan kepemilikan BPJS sebagai variabel independen, serta penggunaan KB sebagai variabel devenden. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur melalui wawancara langsung kepada responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur (p=0,018; OR=3,883), pendidikan (p=0,029; OR=3,322), dan pekerjaan (p=0,019; OR=3,594) memiliki hubungan signifikan dengan penggunaan KB, di mana responden yang lebih muda, berpendidikan tinggi, dan bekerja cenderung lebih aktif menggunakan KB. Sementara itu, jumlah anak (p=0,435) dan kepemilikan BPJS (p=1,000) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan KB lebih dipengaruhi oleh faktor individu, sosial ekonomi, serta kondisi lingkungan seperti keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah persawahan dan perairan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan penggunaan KB perlu difokuskan pada kelompok berisiko dengan pendekatan edukasi yang lebih intensif serta peningkatan akses layanan melalui strategi pelayanan yang lebih dekat dan mobile.
Copyrights © 2026