Ketika isu ketahanan pangan dan perubahan iklim menjadi perhatian dunia, langkah konkret untuk mengatasi dua tantangan itu justru datang dari daerah. Di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Universitas Hasanuddin (UNHAS) memperkenalkan inovasi Mina Padi Vertikal — sistem budidaya ikan terintegrasi dengan padi apung — yang dilakukan melalui kegiatan Demplot di Desa Sipodeceng, Kecamatan Baranti. Program ini bukan hanya eksperimen akademik, tetapi menjadi wujud nyata kolaborasi kampus dan masyarakat dalam menjawab persoalan strategis: bagaimana menyediakan pangan berkelanjutan sambil meningkatkan kesejahteraan petani dan pembudidaya ikan. Minapadi sejatinya adalah harmoni ekologis antara tanaman padi dan ikan dalam satu sistem lahan. Ikan memperoleh makanan alami dari sisa tanaman dan gulma, sementara kotoran ikan menjadi pupuk organik bagi padi. Namun, inovasi terbaru yang diperkenalkan oleh tim UNHAS ini menghadirkan pendekatan baru — Mina Padi Vertikal — di mana posisi ikan nila berada di bawah tanaman padi yang ditanam dalam pot plastik di atas lembaran gabus (styrofoam). Sistem ini tidak sekadar efisien, tetapi juga adaptif terhadap wilayah rawan banjir seperti di Sidrap bagian tengah. Selain itu, pada pengabdian masyarakat ini juga dilakukan sosialisasi dan simulasi tentang teknologi pembuatan pakan ikan berbasis bahan baku lokal, pentingnya legalisasi transaksi saat penjualan atau penggadaian sawah, serta tertib administrasi. Berdasarkan hasil pengabdian masyarakat ini disimpulkan bahwa pendampingan Mina Padi Vertikal, pembuatan pakan ikan, legalisasi transaksi penjualan atau penggadaian sawah, dan tertib administrasi oleh kelompok masyarakat mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dari 30% menjadi 90% dan meningkatkan produktivitas, ketahanan pangan, kesejahteraan dan kenyamanan hidup serta profesionalisme pengelolaan organisasi di Desa Sipodeceng, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap. Kata kunci: Kabupaten Sidrap, ketahanan pangan, legalitas transaksi, mina padi vertikal dan tertib administrasi. ABSTRACT While food security and climate change are global concerns, concrete steps to address these challenges are coming from within the regions. In Sidenreng Rappang (Sidrap) Regency, Hasanuddin University (UNHAS) introduced the Vertical Minapadi innovation—a fish farming system integrated with floating rice—through a demonstration plot in Sipodeceng Village, Baranti District. This program is not merely an academic experiment, but a concrete manifestation of campus-community collaboration in addressing a strategic issue: how to provide sustainable food while improving the welfare of farmers and fish farmers. Minapadi is essentially an ecological harmony between rice plants and fish in a single land system. Fish obtain natural food from crop residues and weeds, while fish waste serves as organic fertilizer for the rice. However, the latest innovation introduced by the UNHAS team presents a new approach—Vertical Minapadi—where tilapia are positioned beneath the rice plants, which are planted in plastic pots on top of styrofoam sheets. This system is not only efficient but also adaptive to flood-prone areas such as central Sidrap. In addition, this community service program also included outreach and simulations on fish feed production technology based on local raw materials, the importance of legalizing transactions when selling or pledging rice fields, and administrative procedures. Based on the results of this community service, it was concluded that vertical rice-fish farming, fish feed production, legalizing rice-fish sales or pledging transactions, and administrative procedures by community groups increased knowledge and skills from 30% to 90%, and increased productivity, food security, and welfare, comfort of living, and professionalism in organizational management in Sipodeceng Village, Baranti District, Sidrap Regency. Keywords: Sidrap Regency, food security, transaction legality, vertical rice-fish farming, and administrative procedures.
Copyrights © 2026