Rendahnya kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi geometri transformasi, khususnya rotasi, masih menjadi masalah dalam pembelajaran matematika di tingkat SMP. Pembelajaran cenderung bersifat prosedural dan belum memanfaatkan media visual interaktif secara optimal, sementara siswa juga memiliki kemampuan spasial yang beragam yang diduga mempengaruhi pemahaman konsep. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemahaman konsep transformasi geometri antara siswa yang mengikuti pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan GeoGebra dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, serta perbedaan berdasarkan tingkat kemampuan spasial. Penelitian kuantitatif dengan jenis quasi experiment dan desain pretest-posttest control group design ini melibatkan 83 siswa kelas IX dari 199 populasi di MTs.N 3 Mataram. Instrumen berupa tes uraian pemahaman konsep (4 soal) dan tes pilihan ganda kemampuan spasial (10 soal). Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis karena data tidak berdistribusi normal. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pemahaman konsep antara kedua kelompok pembelajaran (Mann-Whitney U = 543,5; p = 0,003 < 0,05). Selain itu, terdapat perbedaan signifikan berdasarkan kemampuan spasial (Kruskal-Wallis H = 19,56; p = 0,000 < 0,05). Siswa dengan kemampuan spasial tinggi dan sedang (mean rank = 73,17 dan 63,79) menunjukkan pemahaman konsep lebih baik daripada siswa dengan spasial rendah (mean rank = 37,15). Dengan demikian, pembelajaran PBL berbantuan GeoGebra berpotensi meningkatkan pemahaman konsep geometri, terutama jika didukung kemampuan spasial yang memadai. Implikasi praktisnya, guru disarankan mengintegrasikan GeoGebra dalam PBL serta melakukan asesmen awal kemampuan spasial siswa.
Copyrights © 2026