Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi tanaman porang (Amorphophallus muelleri) sebagai bahan perekat ramah lingkungan dalam produksi briket biomassa, khususnya pengaruh komposisi perekat dan pengeringan terhadap kadar air serta ketahanan mekanik briket. Briket biomassa merupakan sumber energi terbarukan yang penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, namun penggunaan perekat sintetis dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan sehingga perekat alami seperti glukomanan porang perlu dieksplorasi. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan mengombinasikan arang kayu dan tepung porang pada tiga komposisi (70:30, 80:20, dan 90:10) yang dikeringkan pada suhu 120 °C selama 2 jam, dengan 12 sampel pada setiap komposisi. Pengujian meliputi selisih berat (susut pengeringan), kadar air, dan ketahanan mekanik melalui uji jatuh (drop test) dari ketinggian 1 meter. Hasil penelitian menunjukkan susut pengeringan terbesar terjadi pada komposisi 90:10 sebesar 41,1% (selisih 2,5 gram), kadar air terendah diperoleh pada komposisi 70:30 dengan rata-rata 12,21%, sedangkan kadar air tertinggi pada komposisi 90:10 sebesar 41,02%. Uji jatuh menunjukkan penyusutan berat terkecil pada komposisi 70:30 sebesar 0,1 gram (3%). Komposisi 70:30 memberikan mutu terbaik dari sisi kadar air dan ketahanan mekanik sehingga tepung porang berpotensi menjadi perekat alternatif ramah lingkungan untuk briket biomassa, meskipun kadar airnya masih perlu diturunkan agar memenuhi SNI 01-6235-2000 (maksimal 8%).
Copyrights © 2026