Masuknya produk fashion asing menjadi tantangan kompetitif yang besar bagi eksistensi merek lokal, namun sebagian konsumen tetap mempertahankan ketangguhan loyalitas terhadap produk domestik di tengah godaan harga dan prestise produk impor. Meskipun demikian, eksplorasi kualitatif mengenai bagaimana resiliensi loyalitas ini terbentuk dan bertahan dalam kompetisi asimetris tersebut masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam persepsi, sikap, dan sentimen konsumen fashion muslim terhadap merek lokal saat dihadapkan pada gempuran produk impor, sekaligus mengidentifikasi determinan utama yang membangun resiliensi loyalitas mereka. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap delapan informan perempuan (20–45 tahun) yang dipilih melalui purposive sampling. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles et al. melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen memiliki persepsi superior terhadap merek lokal berkat keunggulan fungsional seperti kenyamanan material di iklim tropis, harga yang terjangkau, dan kesesuaian potongan pakaian dengan standar kesopanan syariat Islam. Resiliensi loyalitas terbukti sangat tangguh karena didorong oleh tiga determinan psikologis: (1) etnosentrisme konsumen yang memicu kesadaran moral untuk mendukung UMKM; (2) identitas budaya (brand local iconness) yang relevan; serta (3) keterikatan emosional yang solid. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan memperluas pemahaman mengenai loyalitas merek lokal sebagai konstruksi yang tidak hanya bersifat transaksional, tetapi juga dibentuk secara kuat oleh identitas budaya dan komitmen moral konsumen.
Copyrights © 2026