Kajian fitokimia menjadi aspek penting dalam pengembangan minuman herbal fungsional karena kandungan metabolit sekunder tanaman berperan dalam memberikan aktivitas biologis yang mendukung manfaat kesehatan. Senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolik, terpenoid, saponin, dan tanin diketahui memiliki aktivitas antioksidan melalui mekanisme penangkapan radikal bebas, penghambatan oksidasi seluler, serta modulasi jalur inflamasi. Karakterisasi fitokimia pada bahan herbal menjadi dasar dalam menentukan potensi suatu tanaman sebagai bahan baku pangan fungsional yang tidak hanya memiliki nilai nutrisi, tetapi juga memberikan efek fisiologis bagi tubuh (Gul et al., 2023). Daun pegagan (Centella asiatica) merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki profil fitokimia khas, terutama dari kelompok triterpenoid pentasiklik. Senyawa utama seperti asiaticoside, madecassoside, asiatic acid, dan madecassic acid telah banyak dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, serta berperan dalam stimulasi sintesis kolagen dan regenerasi jaringan. Selain triterpenoid, pegagan juga mengandung flavonoid, polifenol, dan senyawa fenolik yang berkontribusi terhadap kemampuan tanaman dalam menghambat stres oksidatif melalui mekanisme donor elektron dan netralisasi radikal bebas (Nagoor Meeran et al., 2020; Sun et al., 2023). Kandungan bioaktif tersebut menjadikan pegagan berpotensi dikembangkan sebagai bahan utama dalam produk pangan fungsional maupun minuman herbal kesehatan. Sementara itu, bunga telang (Clitoria ternatea) memiliki karakteristik fitokimia yang didominasi oleh senyawa flavonoid, khususnya antosianin jenis ternatin yang bertanggung jawab terhadap warna biru alami pada bunga. Antosianin merupakan kelompok pigmen fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi serta berperan dalam perlindungan sel terhadap kerusakan akibat radikal bebas. Selain antosianin, bunga telang juga mengandung flavonoid, asam fenolat, dan senyawa bioaktif lainnya yang dilaporkan memiliki aktivitas antiinflamasi, antimikroba, antidiabetes, serta mendukung kesehatan metabolik (Oguis et al., 2019; Kusrini et al., 2020; Khan et al., 2024). Kandungan fitokimia tersebut memperkuat potensi bunga telang sebagai bahan alami dalam pengembangan minuman fungsional dengan nilai kesehatan dan estetika yang tinggi. Kombinasi daun pegagan dan bunga telang dalam inovasi TEGA TEA berpotensi menghasilkan produk herbal dengan aktivitas biologis yang lebih optimal melalui perpaduan berbagai kelompok senyawa bioaktif, seperti triterpenoid, flavonoid, dan senyawa fenolik. Sinergisme komponen fitokimia tersebut dapat meningkatkan kapasitas antioksidan serta memberikan nilai tambah terhadap produk minuman herbal berbasis tanaman lokal. Oleh karena itu, pendekatan fitokimia menjadi landasan penting dalam pengembangan TEGA TEA, karena mampu menghubungkan kualitas bahan baku, potensi manfaat kesehatan, serta peluang pengembangan produk herbal bernilai ekonomi bagi UMKM (Panda et al., 2025).
Copyrights © 2026