Relawan ASN Mengajar yang mendampingi anak-anak marjinal di kawasan lapak pemulung Sarmili, Jurang Mangu Barat, Tangerang Selatan, menghadapi tekanan emosional, mental, dan fisik yang tinggi akibat keterbatasan fasilitas, kondisi lingkungan yang rentan, serta intensitas pendampingan psikososial. Penelitian dan kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis baseline resiliensi spiritual relawan serta merancang model pelatihan resiliensi spiritual berbasis bimbingan dan konseling. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 32 responden aparatur sipil untuk mengukur baseline resiliensi spiritual serta merancang kerangka intervensi pelatihan. Hasil pengujian empiris menunjukkan rata-rata skor resiliensi spiritual responden sebesar 43,44 dari skala 50 (SD = 5,12), yang mengindikasikan baseline ketahanan spiritual yang tergolong tinggi. Hasil uji validitas menunjukkan 11 dari 12 item instrumen dinyatakan valid rhitung > rtabel = 0,361; p < 0,05), dengan nilai koefisien Cronbach’s Alpha sebesar 0,844 (reliabilitas sangat tinggi). Artikel ini memformulasikan lima komponen utama pelatihan resiliensi spiritual (meaning & purpose, value & integrity, hope & optimism, inner peace, dan spiritual connection) yang terintegrasi dalam tiga program utama: psikoedukasi, refleksi pemaknaan (meaning making), dan koping spiritual.
Copyrights © 2026