Artikel ini menganalisis representasi konflik identitas dan trauma sejarah dalam bab “Paris, Juni 1988” dari cerpen Malam Terakhir karya Leila S. Chudori dengan pendekatan sosiologi sastra Lucien Goldmann dan teori identitas Stuart Hall. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode close reading dan studi dokumen historis untuk menelusuri keterkaitan antara struktur teks dan struktur sosial-politik yang melatarbelakanginya. Hasil menunjukkan bahwa Paris tidak sekadar ruang geografis, melainkan simbol keterasingan sosial-politik para eksil Indonesia pasca-1965. Trauma sejarah hadir melalui kilas balik, simbol “malam terakhir”, dan rekaman suara yang terus diputar tokoh utama, merepresentasikan luka kolektif yang membayangi kehidupan diaspora. Sementara itu, konflik identitas muncul dalam dilema tokoh utama yang terombang-ambing antara identitas sebagai warga negara Indonesia yang terbuang dan sebagai “liyan” di negeri asing, menunjukkan bahwa identitas bersifat dinamis dan terus dinegosiasikan. Cerpen ini berfungsi sebagai narasi alternatif sejarah yang menggugat represi ideologis Orde Baru serta menegaskan posisi sastra sebagai alat kritik sosial dan ruang pemulihan bagi mereka yang terpinggirkan dari sejarah resmi.
Copyrights © 2026