Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkurangnya jumlah penenun Tenun Rongkong sehingga diperlukan pusat kerajinan sebagai wadah pelestarian dan pengembangan, mengingat Tenun Rongkong telah menjadi batik khas Pemerintah Kabupaten Luwu Utara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan postpositivisme pada kondisi alamiah. Proses pembuatan meliputi pemintalan kapas dengan alat tradisional unuran, pewarnaan alami dari tumbuhan, penyusunan dan perapian benang, hingga penenunan menggunakan alat tradisional. Motifnya mencerminkan adat dan budaya masyarakat Rongkong serta dimanfaatkan dalam seragam sekolah, pakaian dinas, dan bahan ajar sebagai upaya pelestarian budaya.
Copyrights © 2022