Penggunaan gawai dalam kehidupan anak autis menghadirkan persoalan yang tidak dapat direduksi menjadi dikotomi manfaat dan bahaya. Gawai dapat menyediakan prediktabilitas visual, membantu regulasi sensorik, dan memunculkan bentuk kebahasaan yang tidak terduga, tetapi juga berpotensi mengurangi interaksi timbal balik, memperkeras transisi, dan membentuk ketergantungan situasional. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana penggunaan gawai berkelindan dengan pola komunikasi seorang anak autis minim verbal dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis-interpretatif dengan rancangan autoetnografi evokatif-analitis. Subjek penelitian adalah seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang belum menggunakan bahasa lisan secara fungsional, sedangkan peneliti merupakan ayah kandung subjek. Data dikumpulkan selama enam bulan di rumah keluarga di Makassar melalui catatan harian reflektif, observasi naturalistik, memo interaksi, artefak digital, serta percakapan reflektif dengan ibu, terapis homeschooling, pengasuh, dan anggota keluarga. Data dianalisis melalui analisis tematis refleksif yang dilanjutkan dengan pembacaan diskursif terhadap episode komunikasi terpilih. Temuan menunjukkan bahwa gawai berfungsi secara ambivalen sebagai sarana regulasi sensorik, dinding isolasi, jembatan linguistik, dan objek mediasi relasional. Kontribusi penelitian terletak pada pembacaan komunikasi anak autis sebagai praktik kontekstual, multimodal, dan fluktuatif yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap melalui pengukuran laboratorium maupun durasi layar semata.
Copyrights © 2026