Permasalahan yang paling banyak ditemui dalam budidaya yang memiliki keterkaitan dengan akumulasi senyawa nitrogen (amonia dan nitrit) yang berasal dari sisa pakan dan hasil ekskresi metabolik organisme budidaya. Solusi terhadap permasalahan tersebut, teknologi bioflok dikembangkan sebagai pendekatan budidaya berkelanjutan berbasis pemanfaatan komunitas mikroorganisme untuk mendaur ulang nutrien secara in situ. Bioflok tidak hanya berperan sebagai sistem pengolahan limbah secara biologis, tetapi juga menghasilkan agregat mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tambahan bagi organisme budidaya. Keberhasilan sistem bioflok bergantung pada manajemen aerasi yang optimal. Aktivitas bakteri heterotrof dalam sistem bioflok membutuhkan konsumsi oksigen yang tinggi, sehingga aerasi berperan penting dalam menyediakan oksigen terlarut, menjaga flok tetap tersuspensi, serta mendukung proses biodegradasi bahan organik di dalam kolam. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai macam system aerasi dalam sistem bioflok dalam menjaga kualitas air dan mendukung pertumbuhan ikan secara optimal. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-eksploratif. Metode yang digunakan dalam kajian ini mengacu pada penelusuran literatur dari berbagai penelitian terdahulu yang dipublikasikan di jurnal nasional maupun internasional. Berdasarkan perbandingan dari beberapa penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan sistem aerasi modern seperti microbubble dan nanobubble memiliki efisiensi tinggi dalam proses transfer oksigen serta pengelolaan kualitas air jika dibandingkan dengan sistem aerasi konvensional seperti blower atau batu aerasi, namun penggunaan sistem ini masih banyak diterapkan karena lebih mudah dioperasikan dan memiliki biaya yang relatif lebih rendah. Kata kunci: Bioflok, Aerasi, Kualitas Air, Pertumbuhan Ikan
Copyrights © 2026