Perdebatan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia melahirkan dua arus besar dalam filsafat pendidikan, yaitu empirisme dan nativisme. Empirisme menekankan pengalaman dan lingkungan sebagai penentu utama perkembangan, sedangkan nativisme menegaskan dominasi pembawaan sejak lahir. Artikel ini bertujuan menganalisis kedua aliran tersebut dan menempatkannya dalam kerangka filsafat pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan analisis konseptual-komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak berada pada posisi ekstrem empirisme maupun nativisme. Konsep fitrah dalam Islam mengandung potensi bawaan sekaligus membuka ruang besar bagi peran lingkungan dan proses pendidikan. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam menawarkan model integratif antara potensi dasar, pengalaman empiris, dan bimbingan nilai wahyu. Kontribusi artikel ini terletak pada formulasi sintesis konseptual antara teori perkembangan Barat dan paradigma fitrah dalam pendidikan Islam.
Copyrights © 2026