Tuturan spontan dalam debat peserta didik sering memperlihatkan senyapan dan kilir lidah yang mencerminkan kerja kognitif di balik penyampaian argumen lisan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk senyapan, bentuk kilir lidah, dan implikasinya terhadap pembelajaran debat Bahasa Indonesia di SMA. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikolinguistik. Sumber data berupa video Lomba Debat Bahasa Indonesia Tahun 2025 yang diunggah di YouTube oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Data dikumpulkan melalui penyimakan berulang, transkripsi, pencatatan, pengodean, dan klasifikasi, lalu dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan 40 data, terdiri atas 20 senyapan dan 20 kilir lidah. Senyapan terisi mendominasi data senyapan, sedangkan antisipasi mendominasi data kilir lidah. Penelitian menyimpulkan bahwa ketidaklancaran dalam debat bukan semata kesalahan berbicara, melainkan bukti proses perencanaan ujaran di bawah tekanan kognitif dan waktu. Temuan ini berkontribusi bagi kajian psikolinguistik dan pedagogi debat, khususnya pengembangan evaluasi performa berbicara peserta didik secara kontekstual dan reflektif.
Copyrights © 2026