UMKM bunga potong bersifat rentan karena produk mudah rusak, harga berfluktuasi saat panen raya, limbah organik belum termanfaatkan, dan akses pasar masih bergantung pada tengkulak. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat daya saing UMKM Wijaya Rose melalui pemberdayaan agri-preneur muda berbasis zero waste. Program dilaksanakan selama delapan bulan dengan pendekatan partisipatif berupa pelatihan, bimbingan teknis, fasilitasi, dan pendampingan terhadap 10 peserta, termasuk tiga pemuda pengelola inovasi dan pemasaran digital. Setiap solusi diarahkan pada masalah utama: pengolahan kompos dan eco-enzyme untuk menekan limbah, standardisasi pemotongan, sanitasi, dan larutan pengawet untuk memperpanjang vase life; dried flowers dan pressed flowers untuk meredam risiko penurunan harga; serta social commerce berkonsep green marketing untuk memperluas akses pasar. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi foto, catatan produksi, pre-test dan post-test, serta pemantauan indikator usaha. Hasil menunjukkan skor pengetahuan meningkat dari 46,5 menjadi 84,0; limbah organik turun dari 100 menjadi 30 kg per minggu; vase life mawar meningkat dari 4 menjadi 7 hari; proporsi Grade A naik dari 58% menjadi 78%; dan bunga layu sebelum terjual turun dari 22% menjadi 8%. Dua produk turunan berhasil diuji pasar dengan tingkat penjualan 80%, sedangkan pemasaran digital menghasilkan 31 pertanyaan produk dan 12 transaksi dalam enam minggu. Model ini memperkuat efisiensi, ketahanan pendapatan, dan kapasitas digital mitra, serta berpotensi direplikasi pada UMKM florikultura lain dengan penyesuaian skala produksi, jenis bunga, dan karakter pasar.
Copyrights © 2026