Tato (irezumi) dalam budaya Jepang tidak hanya berfungsi sebagai hiasan tubuh, tetapi juga mengandung makna simbolik yang merepresentasikan identitas, pengalaman hidup, dan nilai budaya. Dalam Yakuza 0 (2015), karakter Majima Goro memiliki irezumi bermotif Hannya yang hanya ditampilkan pada momen-momen penting sehingga mengindikasikan fungsi naratif yang melampaui atribut visual karakter. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana makna simbolik tato Hannya dikonstruksi melalui strategi visual cutscene, komposisi irezumi, dan perkembangan perjalanan hidup Majima Goro. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika multimodal Kress dan van Leeuwen untuk menganalisis strategi visual kemunculan tato, serta semiotika Roland Barthes untuk menginterpretasikan makna denotatif, konotatif, dan mitos pada setiap elemen irezumi. Data penelitian berupa dua sekuens utama yang menampilkan kemunculan tato Hannya secara signifikan, dengan perkembangan naratif Majima Goro sebagai konteks pemaknaan simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan tato dibangun melalui strategi visual yang secara konsisten menempatkan irezumi sebagai pusat perhatian pemain. Komposisi Hannya, ular putih, bunga sakura, dan bokashi membentuk satu kesatuan simbolik yang maknanya berkembang mengikuti pengalaman hidup Majima. Temuan ini menunjukkan bahwa irezumi tidak hanya merepresentasikan simbol budaya Jepang, tetapi juga berfungsi sebagai narasi visual yang merekam transformasi identitas, konflik batin, dan pilihan moral karakter sepanjang alur cerita Yakuza 0 (2015).
Copyrights © 2026