Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi ruang sakral, mengidentifikasi unsur-unsur akulturasi budaya dalam arsitektur, ritual, dan simbol, serta mengembangkan potensinya sebagai sumber belajar sejarah di SMA. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi Situs Kawitan menjadi Pura Luhur Giri Salaka mencerminkan pergeseran paradigma dari pemujaan lokal menuju ritual keagamaan Hindu yang terstruktur. Akulturasi budaya terlihat dari aspek arsitektur yang memadukan konsep Tri Mandala Bali dengan punden berundak Jawa. Keberadaan dua ruang sakral yang harmonis mencerminkan nilai multikulturalisme, toleransi beragama dan kebinekaan yang relevan dengan capaian pembelajaran Fase E Kurikulum Merdeka pada materi Kerajaan Hindu-Budha, sehingga kedua tempat sakral ini berpotensi sebagai sumber belajar sejarah berbasis kearifan lokal yang dapat mengembangkan pemahaman historis dan sikap toleransi siswa SMA.
Copyrights © 2026