Indonesia, sebagai wilayah yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, memiliki tingkat kerentanan seismik yang sangat tinggi, menuntut adanya evaluasi berkelanjutan terhadap kelayakan infrastruktur eksisting. Pembaruan regulasi kegempaan dari SNI 1726:2012 menjadi SNI 1726:2019 membawa implikasi yang sangat signifikan terhadap perhitungan beban gempa rencana, yang berpotensi mengubah status kelayakan dan kinerja struktur bangunan yang telah dibangun berdasarkan standar terdahulu. Analisis komprehensif ini berfokus pada evaluasi kinerja seismik struktur beton bertulang bertingkat sedang, yakni Gedung X Universitas Y, dengan menggunakan metode statik non-linier pushover yang berpedoman pada panduan Applied Technology Council (ATC-40). Respons struktural dievaluasi secara mendalam melalui parameter gaya geser dasar (base shear), simpangan antar lantai (story drift), stabilitas P-Delta, dan mekanisme pembentukan sendi plastis (plastic hinges). Hasil analisis mengindikasikan adanya eskalasi kebutuhan (demand) gaya lateral pada standar pembaruan, yang ditandai dengan peningkatan perpindahan atap sebesar 12% pada arah X dan 16% pada arah Y. Lebih lanjut, analisis mengungkap bahwa gaya geser dasar maksimum pada titik kinerja (performance point) mengalami peningkatan margin sebesar 5%. Kendati struktur eksisting secara global tetap berada pada tingkat kinerja Immediate Occupancy (IO) di bawah kedua skenario peraturan gempa, investigasi simpangan antar lantai menunjukkan pelampauan batas izin simpangan pada SNI 1726:2019, khususnya pada sumbu lemah (arah Y). Pola keruntuhan menunjukkan indikasi kerentanan tingkat lunak (soft story) pada lantai dasar yang mencapai level Collapse Prevention (CP) pada akhir kurva kapasitas. Temuan ini menegaskan bahwa pemenuhan titik kinerja global tidak serta-merta menjamin keamanan elemen lokal terhadap deformasi lateral yang berlebihan. Kata kunci: Analisis Pushover, Kinerja Seismik, Kurva Kapasitas, Sendi Plastis, Spektrum Respons.
Copyrights © 2026