Fenomena pelanggaran hukum oleh anak (remaja) menjadi kasus yang mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan. Pada prosesnya, anak-anak dengan dakwaan menjalani penahanan dalam lembaga pemasyarakatan yang bukan hanya menunaikan sanksi, tapi juga pusat pendidikan dan pembinaan (UU No. UU No. 12/1995, Pasal 14). Maka proses pembelajar menjadi wajib dilakukan dalam lapas anak. Salah satu model pembelajaran yang dilakukan adalah dengan pembuatan komik. Lapas Anak Tangerang dan Palembang adalah contohnya. Komik berfungsi sebagai sarana informasi dan estetika bagi pembaca. Adapun bagi anak binaan lapas selain menjadi sarana kreasi, menggambar komik dapat dianggap sebagai langkah pemulihan citra. Dengan demikian maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna pemulihan citra diri yang dilakukan anak-anak lapas. Pemulihan citra salah satu kajian komunikasi krisis dan merupakan upaya pemulihan citra melalui strategi komunikasi tertentu. Benoit mengklafikasikan hal tersebut dalam lima langkah, yaitu (1) denial, (2) evading of responsibility (3) reducing offensiveness, (4) corrective action, dan (5) mortification. Adapun analisa yang dapat digunakan untuk menganalisanya adalah menggunakan analisis semiotika untuk mendeskripsikan makna yang terkandung pada komik yang dihasilkan oleh anak-anak lapas. Berdasarkan analisis yang diterapkan pada komik tersebut menunjukkan bahwa mayoritas komik menggambarkan bentuk pemulihan citra dengan sisi corrective action dan mortification. Dengan demikian, dapat disimpulkan hasil dari komik yang dibuat oleh anak-anak lapas Tangerang dan Palembang menggambarkan harapan perbaikan diri mereka di masa depan serta rasa bersalah mereka terhadap tindakan yang mereka lakukan sebelumnya.
Copyrights © 2025