Hairun Nisa
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transisi Strategi Komunikasi Krisis DPR RI di Media Sosial: Analisis Pergeseran dari Diminishment ke Rebuilding Berdasarkan Situational Crisis Communication Theory (SCCT) Hairun Nisa; Raisa Hashina Rosalini; Fajar Aditiya Nugraha; Euis Sri Nurhayati; Lisy Tantowi
Jurnal Riset Komunikasi Vol 17, No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jrk.v17i1.36668

Abstract

Studi ini menganalisis manajemen komunikasi krisis Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam menghadapi aksi demonstrasi penghapusan tunjangan rumah dengan fokus pada praktik komunikasi di media sosial. Penelitian ini menggunakan kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh Coombs sebagai alat analisis utama. Data dikumpulkan dari unggahan akun resmi pada akun Instagram DPR serta tanggapan publik dalam rentang waktu sejak isu mencuat dan memicu demonstrasi hingga puncak aksi penolakan (25 Agustus hingga 7 September 2025).  Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi komunikasi DPR menunjukkan pergeseran (transisi) dari strategi defensif yang berisiko, menuju strategi yang proaktif dan akuntabel. Pada fase awal krisis, postingan DPR cenderung menggunakan respons Diminishment untuk merasionalisasi tunjangan tersebut dengan klaim kebutuhan biaya sewa rumah yang mahal atau menyatakan kondisi rumah dinas yang tidak lagi difungsikan. Upaya ini dinilai tidak efektif dan berisiko memperburuk keadaan (turning point for worse) karena publik menetapkan atribusi tanggung jawab yang tinggi. DPR kemudian beralih ke strategi Rebuilding (5 September 2025) melalui pengumuman pembatalan/penghentian tunjangan perumahan anggota dewan secara resmi, yang merupakan tindakan korektif dan penyesuaian (Corrective Action) paling kuat untuk menunjukkan akuntabilitas. Transisi strategi yang didorong oleh eskalasi di media sosial ini menggarisbawahi pentingnya keputusan yang cepat dan tepat dalam mengelola krisis legitimasi di era digital.
PEMULIHAN CITRA ANAK PENJARA: ANALISIS SEMIOTIKA KOMIK ANAK LAPAS (KOLAPS) TANGERANG DAN PALEMBANG Fajar Aditiya Nugraha; Lissy Tantowi; Hairun Nisa
Perspektif Komunikasi Jurnal Ilmu Komunikasi Politik dan Komunikasi Bisnis Vol. 9 No. 2 (2025): Perspektif Komunikasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/pk.9.2.191-204

Abstract

Fenomena pelanggaran hukum oleh anak (remaja) menjadi kasus yang mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan. Pada prosesnya, anak-anak dengan dakwaan menjalani penahanan dalam lembaga pemasyarakatan yang bukan hanya menunaikan sanksi, tapi juga pusat pendidikan dan pembinaan (UU No. UU No. 12/1995, Pasal 14). Maka proses pembelajar menjadi wajib dilakukan dalam lapas anak. Salah satu model pembelajaran yang dilakukan adalah dengan pembuatan komik. Lapas Anak Tangerang dan Palembang adalah contohnya. Komik berfungsi sebagai sarana informasi dan estetika bagi pembaca. Adapun bagi anak binaan lapas selain menjadi sarana kreasi, menggambar komik dapat dianggap sebagai langkah pemulihan citra. Dengan demikian maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna pemulihan citra diri yang dilakukan anak-anak lapas. Pemulihan citra salah satu kajian komunikasi krisis dan merupakan upaya pemulihan citra melalui strategi komunikasi tertentu. Benoit mengklafikasikan hal tersebut dalam lima langkah, yaitu (1) denial, (2) evading of responsibility (3) reducing offensiveness, (4) corrective action, dan (5) mortification. Adapun analisa yang dapat digunakan untuk menganalisanya adalah menggunakan analisis semiotika untuk mendeskripsikan makna yang terkandung pada komik yang dihasilkan oleh anak-anak lapas. Berdasarkan analisis yang diterapkan pada komik tersebut menunjukkan bahwa mayoritas komik menggambarkan bentuk pemulihan citra dengan sisi corrective action dan mortification. Dengan demikian, dapat disimpulkan hasil dari komik yang dibuat oleh anak-anak lapas Tangerang dan Palembang menggambarkan harapan perbaikan diri mereka di masa depan serta rasa bersalah mereka terhadap tindakan yang mereka lakukan sebelumnya.