Ketimpangan akses internet antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih menjadi tantangan pembangunan digital di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, yang secara geografis didominasi wilayah perbukitan, pesisir, dan permukiman yang tersebar dan sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional. Artikel ini mengkaji potensi dan tantangan pemanfaatan layanan internet satelit orbit rendah (Low Earth Orbit) Starlink sebagai alternatif solusi konektivitas bagi desa-desa yang masih mengalami blank spot maupun lemah sinyal di Kabupaten Bima. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif, menelaah data sekunder dari pemberitaan resmi, dokumen instansi pemerintah, dan publikasi terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa Starlink menawarkan keunggulan berupa latensi rendah, kecepatan akses tinggi, kemudahan pemasangan tanpa menara BTS, serta kemampuan menjangkau wilayah dengan topografi sulit. Namun, penerapannya di Kabupaten Bima masih menghadapi tantangan berupa biaya perangkat dan langganan yang relatif tinggi, keterbatasan pasokan listrik di sejumlah desa, minimnya literasi digital masyarakat, serta perlunya regulasi dan sinergi dengan program pemerintah seperti BAKTI Komdigi dan proyek satelit SATRIA. Artikel ini merekomendasikan model kolaborasi antara pemerintah daerah, operator telekomunikasi nasional, dan penyedia Starlink melalui skema subsidi komunitas agar pemanfaatan teknologi ini memberi dampak optimal bagi pemerataan akses digital di Kabupaten Bima.
Copyrights © 2026