ABSTRACT Fine motor skills constitute an essential component of early childhood development because they support children's independence, learning readiness, and participation in activities requiring precision and coordination. Observations conducted at TK Pradnya Paramita revealed that some children aged 5–6 years still experienced difficulties in coordinating hand and finger movements during manipulative tasks. This condition encouraged the use of wood shavings waste as collage material, providing a more varied sensorimotor experience than the learning media commonly used in the classroom. To examine its influence on fine motor development, this study involved 34 children divided into two groups: 16 children in the treatment group and 18 children in the comparison group. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Posttest-Only Control Group Design. Data were collected through observation and documentation, then analyzed using normality and homogeneity tests followed by an independent samples t-test. The findings indicated that the mean fine motor score of children who participated in collage activities using wood shavings waste was 42.13, exceeding the mean score of 31.67 obtained by the comparison group. Statistical analysis confirmed that the difference was significant (p < 0.05). These results suggest that wood shavings waste can serve as an effective learning medium for stimulating fine motor development while simultaneously introducing environmentally friendly and educationally valuable materials into early childhood education. ABSTRAK Kemampuan mengendalikan gerakan jari dan tangan menjadi bagian penting dari pengalaman belajar anak usia dini karena berkaitan dengan berbagai aktivitas yang membutuhkan ketelitian, koordinasi, dan kemandirian. Di TK Pradnya Paramita, masih ditemukan anak usia 5–6 tahun yang belum mampu mengoordinasikan gerakan tangan secara optimal ketika melakukan kegiatan yang memerlukan keterampilan manipulatif. Situasi tersebut mendorong pemanfaatan limbah serutan kayu sebagai bahan kolase yang diharapkan dapat menghadirkan pengalaman sensorimotor yang lebih beragam dibandingkan media yang umum digunakan di kelas. Untuk menelaah pengaruhnya terhadap perkembangan motorik halus, penelitian ini melibatkan 34 anak yang terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu 16 anak pada kelas perlakuan dan 18 anak pada kelas pembanding. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan Posttest-Only Control Group Design dalam kerangka quasi experiment. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui uji normalitas, homogenitas, serta independent samples t-test. Hasil analisis menunjukkan bahwa capaian motorik halus anak pada kelompok yang mengikuti kegiatan kolase berbahan limbah serutan kayu memiliki rerata skor 42,13, lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding yang memperoleh rerata 31,67. Perbedaan tersebut terbukti signifikan secara statistik (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan limbah serutan kayu dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang efektif untuk menstimulasi perkembangan motorik halus sekaligus memperkenalkan penggunaan bahan yang bernilai edukatif dan ramah lingkungan pada pendidikan anak usia dini.
Copyrights © 2026