Artikel ini membahas tentang kerancuan dan bias pemaknaan peristiwa Jogja Kembali. Selama ini ada beberapa lapis bias pemaknaan narasi peristiwa Jogja Kembali, baik dalam ranah nasional maupun lokal. Bias pemaknaan ini kemudian menyebabkan pewarisan narasi peristiwa Jogja Kembali menjadi tidak utuh terutama mengenai hari peringatan Jogja Kembali. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah kritis berupa heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan menggunakan dua sumber primer koleksi Museum Perjuangan Mandala Bhakti Kodam IV/Diponegoro berupa laporan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam peristiwa Jogja Kembali. Hasil penelitian membuktikan bahwa peristiwa Jogja Kembali merupakan peristiwa penarikan tentara Belanda dari Daerah Istimewa Yogyakarta pada 24 Juni – 30 Juni 1949. Peristiwa ini kemudian ditandai dengan Proklamasi 30 Juni 1949 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kata Kunci: Jogja Kembali, penarikan tentara Belanda, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Proklamasi 30 Juni 1949.
Copyrights © 2026