Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pendidikan Sebagai Sarana Emansipasi Sosial: Kajian terhadap Program Studiefonds di Mangkunegaran 1912–1944 Ahmad Dzaky Benson Irani; Nor Huda; Moh Ashif Fuadi; Aan Ratmanto; Adrian Perkasa
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 7 No. 01 (2026): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v7i01.13183

Abstract

Penelitian ini menganalisis tentang peran Studiefonds Mangkunegaran sebagai instrumen filantropi pendidikan dalam mendorong transformasi sosial masyarakat pada era kolonial. Sebagai inisiatif mandiri, lembaga ini hadir untuk mengatasi hambatan ekonomi masyarakat dalam mengakses pendidikan modern demi meningkatkan derajat sosial. Dengan menggunakan metode historis yang bersumber pada arsip primer Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, kajian ini mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan pemicu utama modernitas di Praja Mangkunegaran. Studiefonds yang didirikan pada tahun 1912 berdasarkan Pranatan Pustaka Praja (Rijksblad) 15 Oktober 1913 ini pada awalnya bersifat eksklusif bagi golongan sentono dan priyayi. Namun, kebijakan tahun 1915 menandai pergeseran signifikan melalui pemberian akses peringanan biaya pendidikan bagi masyarakat umum. Program tersebut tidak hanya membantu pembiayaan sekolah, tetapi juga membentuk mobilitas sosial baru melalui lahirnya kelompok terdidik pribumi yang kemudian berperan dalam birokrasi, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran Studiefonds menunjukkan adanya kesadaran elite Mangkunegaran terhadap pentingnya pendidikan sebagai sarana kemajuan dan emansipasi sosial. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan model kemandirian finansial pribumi sebagai bentuk resistensi terhadap restriksi pendidikan kolonial, yang memberikan kontribusi penting bagi historiografi pendidikan serta kajian filantropi di Indonesia, khususnya dalam konteks modernisasi masyarakat Jawa pada awal abad ke-20. Kata Kunci: Pendidikan; Pura Mangkunegaran; Studiefonds
Pendampingan Penyusunan Usulan Penetapan Dam Cluwok (Kersluit Gesikan) sebagai Bangunan Cagar Budaya di Kabupaten Tulungagung Latif Kusairi; Moh Ashif Fuadi; Irma Ayu Kartika Dewi; Nor Huda; Moh Mahbub; Aan Ratmanto; Qisthi Faradina Ilma Mahanani
Abdurrauf Journal of Community Service Vol. 3 No. 1 (2026): Abdurrauf Journal of Community Service
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ajcos.v3i1.1019

Abstract

service project aims to encourage the designation of Dam Cluwok (Kersluit Gesikan) as a Cultural Heritage Building in Tulungagung Regency. This structure is a legacy of Dutch colonial infrastructure that holds historical, technological, and social significance, particularly in the system of water management and irrigation. In addition to functioning as a water flow control structure, Dam Cluwok represents the development of colonial hydraulic engineering that continues to provide benefits for the surrounding community. However, the lack of public awareness and the absence of official designation as a cultural heritage site make this structure vulnerable to damage and the loss of its historical significance. The implementation method employs a participatory approach involving the local community, the Tulungagung Regional Government, the Cultural Heritage Expert Team, historians, and other relevant stakeholders. The activities include the identification and documentation of the structure, socialization of cultural heritage values, and assistance in the process of proposing its designation. The results indicate an increased public understanding of the importance of preserving cultural heritage, as well as the growth of collective support for the designation of Dam Cluwok as a Cultural Heritage Building. This project underscores the importance of collaboration between the community and the government in maintaining the sustainability of local historical heritage.
Sekitar Peristiwa (Kota) Jogja Kembali, 1949 Aan Ratmanto; Dyah Ayu Anggraheni Ikaningtyas
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/mozaik.v17i1.98306

Abstract

Artikel ini membahas tentang kerancuan dan bias pemaknaan peristiwa Jogja Kembali. Selama ini ada beberapa lapis bias pemaknaan narasi peristiwa Jogja Kembali, baik dalam ranah nasional maupun lokal. Bias pemaknaan ini kemudian menyebabkan pewarisan narasi peristiwa Jogja Kembali menjadi tidak utuh terutama mengenai hari peringatan Jogja Kembali. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah kritis berupa heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan menggunakan dua sumber primer koleksi Museum Perjuangan Mandala Bhakti Kodam IV/Diponegoro berupa laporan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam peristiwa Jogja Kembali. Hasil penelitian membuktikan bahwa peristiwa Jogja Kembali merupakan peristiwa penarikan tentara Belanda dari Daerah Istimewa Yogyakarta pada 24 Juni – 30 Juni 1949. Peristiwa ini kemudian ditandai dengan Proklamasi 30 Juni 1949 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kata Kunci: Jogja Kembali, penarikan tentara Belanda, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Proklamasi 30 Juni 1949.