Perubahan iklim meningkatkan kerentanan Daerah Aliran Sungai (DAS) terhadap banjir, kekeringan, sedimentasi, degradasi lahan, dan penurunan kualitas lingkungan, sehingga diperlukan tata kelola yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tata kelola adaptif Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang dalam memperkuat climate resilience dan mendukung sustainable basin management. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap tujuh informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas unsur Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah desa atau kelurahan, masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS), serta akademisi atau komunitas lingkungan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, pengkodean, pengelompokan tema, interpretasi, serta triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang telah mengarah pada prinsip adaptive watershed governance melalui koordinasi kelembagaan, mitigasi risiko banjir, konservasi wilayah hulu, dan pelibatan masyarakat. Namun, efektivitas tata kelola masih menghadapi kendala berupa lemahnya integrasi antaraktor, keterbatasan pengawasan, tekanan alih fungsi lahan, sedimentasi, serta belum optimalnya partisipasi masyarakat secara berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS) memerlukan kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan data risiko iklim, pemberdayaan masyarakat lokal, dan kebijakan berbasis ekosistem agar pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) lebih responsif terhadap perubahan iklim dan mendukung keberlanjutan wilayah sungai.
Copyrights © 2026