Penelitian ini mengeksplorasi perbedaan fundamental antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan dari perspektif teologis, khususnya dalam konteks Indonesia. Temuan utama menunjukkan bahwa meskipun AI dapat mereplikasi berbagai fungsi kognitif manusia, perbedaan esensial tetap ada dalam dimensi spiritual dan relasional yang melekat pada manusia sebagai pemegang Imago Dei. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak ambivalen AI dalam praktik keagamaan, menawarkan kerangka teologis untuk integrasi teknologi yang bertanggung jawab, dan menekankan pentingnya dialog interdisipliner antara teologi dan teknologi. Hasil penelitian ini menemukan AI dapat mereplikasi fungsi kognitif tertentu, perbedaan esensial tetap ada dalam dimensi spiritual, relasional, dan moral yang melekat pada manusia sebagai pemegang Imago Dei. Integrasi AI dalam pelayanan gereja memiliki dampak ambivalen: meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi. Namun tidak dapat memberi implikasi teologis dari pengembangan AI karena memerlukan pendekatan yang seimbang. Inilah yang merupakan keterbatasan AI dalam konteks keagamaan.
Copyrights © 2025