Lansia merupakan kelompok rentan di wilayah rawan bencana, yang disebabkan oleh adanya keterbatasan fisik, sosial, dan psikologis sehingga memengaruhi kesiapsiagaan bencana. Dimensi spiritual berperan penting dalam membentuk ketahanan dan kemampuan adaptasi, namun kajian mengenai pemenuhan kebutuhan spiritual lansia pada fase pra-bencana masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemenuhan kebutuhan spiritual lansia pada situasi pra-bencana di wilayah rawan bencana sebagai dasar pengembangan strategi kesiapsiagaan yang lebih komprehensif dan humanis. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 218 lansia dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pemenuhan kebutuhan spiritual yang mencakup dimensi transendental, intrapersonal, interpersonal, dan karakteristik perilaku, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi transendental dan interpersonal mayoritas berada dalam kategori baik, sedangkan dimensi intrapersonal didominasi kategori buruk. Secara keseluruhan, sebagian besar lansia memiliki kebutuhan spiritual yang terpenuhi, namun terdapat ketidakseimbangan antar dimensi spiritual, khususnya pada aspek intrapersonal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesiapsiagaan lansia pada fase pra-bencana perlu dipahami tidak hanya dari aspek fisik dan sosial, tetapi juga dari dimensi spiritual, terutama penguatan makna hidup dan penerimaan diri. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan intervensi keperawatan komunitas berbasis spiritualitas untuk meningkatkan kesiapan lansia menghadapi risiko bencana.
Copyrights © 2026