Artikel ini menelaah resiliensi dan perilaku bertahan (coping behavior) gadis-gadis remaja dari pedesaan Indramayu (Jawa Barat) yang masuk (juga yang menolak masuk) ke dalam dunia perdagangan seks. Mengeksplorasi bagaimana mereka memandang dan mengalami penindasan, artikel ini juga mengidentifi kasi aspek-aspek kemampuan mereka menghadapi keadaan sulit. Artikel ini berpandangan bahwa kecenderungan mengkategorikan anak anak di bawah umur dalam perdagangan seks sebagai kelompok korban sosial homogen yang agensinya sepenuhnya lenyap mengaburkan pemahaman lebih baik tentang kondisi kehidupan mereka yang sesungguhnya.
Copyrights © 2012