Emisi metana pada tambang batubara bawah tanah menimbulkan risiko keselamatan dan lingkungan, seperti ledakan metana serta pembentukan gas karbon monoksida (CO). Emisi ini berlangsung selama kegiatan penambangan hingga pascatutup tambang, sehingga diperlukan sistem pemantauan yang mampu mendeteksi potensi kebocoran secara dini. Penelitian ini mengembangkan Automatic and Continuous Monitoring System-CH? (ACMS-CH?) sebagai sistem pemantauan yang fleksibel untuk mengukur konsentrasi metana secara kontinu dan langsung di lapangan. Data konsentrasi metana selanjutnya dianalisis untuk mengevaluasi difusi dan permeabilitas gas melalui rekahan batuan. Model rekahan dibuat di laboratorium dengan tiga konfigurasi berdasarkan kompleksitas alur dan spasi rekahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekahan dengan alur yang lebih sederhana memiliki koefisien difusi metana yang lebih tinggi dibandingkan rekahan dengan alur yang lebih kompleks. Temuan ini menunjukkan bahwa karakteristik rekahan berpengaruh terhadap mekanisme transport metana dan mendukung pengembangan sistem pemantauan kebocoran gas pada tambang batubara bawah tanah.
Copyrights © 2026