Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh work engagement dan digital workload baik secara parsial maupun simultan terhadap gejala quiet quitting pada pegawai Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Barat. Menggunakan Teori Manajemen Sumber Daya Manusia sebagai grand theory, penelitian ini berlokasi di Kompleks Perkantoran Gubernur Sulawesi Barat, Kabupaten Mamuju. Dari total populasi 155 pegawai, sampel sebanyak 112 responden ditentukan melalui rumus Slovin dan dipilih menggunakan metode proportionate stratified random sampling (69 PNS dan 43 pegawai paruh waktu). Data primer dikumpulkan melalui kuesioner Skala Likert 5 poin, kemudian dianalisis menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda, uji kualitas instrumen, pengujian hipotesis (Uji t dan Uji F), serta analisis Koefisien Determinasi (R2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keterikatan kerja (work engagement) harian pegawai berada pada kategori sedang (rata-rata 3,20–3,63), sementara beban kerja digital (digital workload) tergolong tinggi akibat durasi penggunaan perangkat (rata-rata 3,72) dan tekanan psikologis dari notifikasi kerja yang konstan (rata-rata 3,78). Kondisi ini memicu tingginya gejala quiet quitting, di mana pegawai cenderung membatasi kontribusi hanya sebatas deskripsi tugas pokok (rata-rata 3,42) dan enggan menerima tugas tambahan (rata-rata 3,46) demi menghindari burnout. Secara simultan, integrasi pengelolaan keterikatan kerja dan pengendalian beban kerja digital terbukti menentukan arah perilaku komitmen minimalis pegawai dalam birokrasi pemerintahan daerah.
Copyrights © 2026