Penelitian ini didasari atas fenomena sastra lisan pappaseng yang banyak menggunakan bahasa konotatif. Kemudian, sastra tersebut banyak mengandung nilai-nilai luhur yang sangat bermanfaat untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dari hal tersebut, maka diperlukan analisis secara mendalam mengenai makna atau maksud sastra lisan tersebut dengan menggunakan pendekatan pragmatik khususnya dalam hal implikatur. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan maksud yang terkandung dalam pappaseng yang berbahasa konotatif dan mengimplikasikannya dalam pembelajaran sastra di sekolah dasar. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah pappaseng berbahasa konotatif dan sumber datanya adalah pappaseng yang hidup dalam masyarakat Bugis. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument). Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik simak bebas cakap. wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan teknik model Miles dan Huberman yang terdiri atas tiga langkah, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan beberapa pappaseng yang menggunakan bahasa konotatif. Pappaseng-papaseng tersebut berwujud monolog dalam bentuk werekkada (ungkapan atau pribahasa) dan elong (puisi atau lagu). Masing-masing pappaseng tersebut memiliki maksud tertentu dan dengan memahami maksudnya, maka nilai-nilai moral yang terkandung dalam pappaseng tersebut dapat diketahui dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pappaseng tersebut juga dapat diimplikasikan dalam pembelajaran sastra di sekolah dasar dalam bentuk pengalihwahanaan, penyisipan dalam tuturan, dan mengajarkannya dalam pembelajaran bahasa daerah.
Copyrights © 2026