Tingginya prevalensi anemia pada remaja putri di wilayah rural erat kaitannya dengan kebiasaan batasan asupan nutrisi yang dipengaruhi oleh budaya pantang makan (food taboo). Penelitian observasional analitik dengan pendekatan case-control study ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perilaku pantang makan berbasis budaya terhadap kejadian anemia pada remaja putri serta implikasinya dalam asuhan kebidanan. Penelitian dilaksanakan pada bulan January hingga Maret 2024 di Gampong Blang Kucak, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah. Sampel penelitian berjumlah 60 remaja putri (30 kasus anemia dan 30 kontrol tidak anemia) yang dipilih menggunakan teknik fixed disease sampling. Pengukuran kadar hemoglobin menggunakan alat Hb-meter digital, sedangkan data pantang makan diperoleh melalui kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja putri yang memiliki perilaku pantang makan tinggi berisiko 4,2 kali lebih besar mengalami anemia dibandingkan remaja yang tidak pantang makan (OR = 4,20; 95% CI= 1,38 - 12,74; p = 0,009). Bidan komunitas perlu mengintegrasikan konseling nutrisi peka budaya (culturally sensitive nutritional counseling) dalam pelayanan asuhan kebidanan remaja. Kata kunci: Anemia, Perilaku Pantang Makan, Food Taboo, Remaja Putri, Asuhan Kebidanan, Bener Meriah
Copyrights © 2024