Perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap komunikasi politik di Indonesia, salah satunya melalui pemanfaatan budaya populer siber sebagai strategi marketing politik. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis karakteristik serta sebaran sentimen publik terhadap jargon politik "Gemoy" yang digunakan dalam dinamika Pilpres 2024 Indonesia lintas platform media digital. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan komputasional berupa web crawling/scraping untuk menguji validitas data korpus tekstual. Sebanyak 1.000 sampel data bersih dari media sosial (Twitter/X, TikTok, Instagram, Facebook) dan portal berita arus utama dianalisis menggunakan metode lexicon-based analysis berbantuan instrumen kamus leksikon bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi publik secara makro didominasi oleh respons positif sebesar 53,9%, diikuti sentimen netral sebesar 26,2%, dan sentimen negatif sebesar 19,9%. Melalui komparasi lintas saluran, TikTok dan Instagram teridentifikasi sebagai episentrum sentimen positif yang mengamplifikasi aspek afektif publics melalui konten visual, sedangkan Twitter (X) menunjukkan anomali berupa dominasi sentimen negatif yang mencerminkan diskursus kritis khalayak terhadap isu substansi kebijakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jargon politik digital bertindak sebagai pisau bermata dua yang efektif dalam membangun popularitas elektoral berbasis afeksi, namun memicu resistensi intelektual akibat risiko pendangkalan esensi demokrasi.
Copyrights © 2026