Pendidikan karakter berbasis budaya lokal menjadi urgensi di tengah tantangan modernisasi dan kecenderungan pendekatan yang masih normatif. Dalam konteks Bali, Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan lingkungan (palemahan) relevan sebagai kerangka pendidikan holistik. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Tari Maskot sebagai media internalisasi nilai Tri Hita Karana di SMPN 2 Tegallalang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan orientasi interpretatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi, dan studi literatur, lalu dianalisis melalui reduksi data, kategorisasi tematik, dan interpretasi reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Maskot berfungsi sebagai medium pembelajaran berbasis pengalaman (embodied learning). Nilai parhyangan terinternalisasi melalui pengalaman estetis-spiritual dalam latihan dan pementasan; nilai pawongan melalui kerja kolektif dan harmoni sosial; serta nilai palemahan melalui pembiasaan kepedulian terhadap lingkungan sekolah. Tari Maskot tidak sekadar kegiatan seni, melainkan media pedagogis integratif yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis dalam pembentukan karakter peserta didik
Copyrights © 2026