Prevalensi penggunaan rokok eletrik (electrinic cigarette) yang sering disebut vape pada remaja menunjukkan peningkatan yang signifikan. Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia menunjukkan kenaikan prevalensi pengguna rokok elektrik dari 0,3 % pada 2011 menjadi 3 % pada 2021, yang mencerminkan tren meningkatnya adopsi vape di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak penggunaan vape terkait durasi penggunaan, usia mulai menggunakan vape, tanda dan gejala gangguan paru, serta efektivitas penyuluhan kesehatan melalui pre test dan post test. Desain penelitian menggunakan one group pre-test post-test pada 30 siswa SMK laki-laki usia 15–19 tahun. Penilaian pemahaman materi dikategorikan menjadi nilai 4 (memahami), 3 (cukup), dan 2 (perlu penguatan). Hasil menunjukkan sebagian besar responden menggunakan vape ≥ 2 tahun (60%), dan 56,7% mulai menggunakan vape pada usia < 15 tahun. Gejala paru yang paling banyak dialami adalah mudah lelah (76,7%), batuk kering (66,7%), dan sesak napas (46,7%). Hasil pre test menunjukkan 50% responden berada pada kategori perlu penguatan dan post test menunjukkan peningkatan kategori memahami menjadi 73,3%. Penyuluhan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja mengenai bahaya vape. Sekolah disarankan untuk mengintegrasikan penyuluhan bahaya vape dalam program rutin promosi kesehatan serta memperkuat pengawasan dan kebijakan kawasan tanpa rokok elektrik di lingkungan sekolah guna mencegah dampak kesehatan paru pada remaja.
Copyrights © 2026