Ketimpangan gender masih menjadi permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia. Meskipun Indeks Ketimpangan Gender (IKG) menunjukkan tren penurunan, perempuan masih menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan dalam aspek sosial, budaya, pendidikan, dan relasi kekuasaan akibat kuatnya budaya patriarki. Fenomena tersebut juga direpresentasikan dalam media film, salah satunya film Lembayung (2024) karya Baim Wong yang menampilkan pengalaman perempuan dalam menghadapi subordinasi, kekerasan, dan dominasi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi ketimpangan gender dalam film Lembayung menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Data primer berupa film Lembayung, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, dan literatur yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan studi pustaka, kemudian dianalisis menggunakan konsep denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Lembayung merepresentasikan berbagai bentuk ketimpangan gender, seperti subordinasi, kekerasan berbasis gender, kekerasan seksual, kekerasan psikologis, beban reproduksi, dan penyalahgunaan kekuasaan oleh tokoh laki-laki. Pada tingkat denotasi, film menampilkan tindakan pelecehan, ancaman, dan kekerasan terhadap perempuan. Pada tingkat konotasi, tindakan tersebut mencerminkan relasi kuasa yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Sementara pada tingkat mitos, film menggambarkan kuatnya ideologi patriarki yang melanggengkan ketidakadilan gender dalam kehidupan sosial.
Copyrights © 2026