Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga Melalui Pembuatan Eco Enzim di Desa Batu Gajah Cesilia Rivini; Kety Aulia Jannes; Latifa Hanum; Melianti Daulay; Nazmi Hasanah Nasution; Nurhikmah Nurhikmah; Putri Aurelia Rhamadina; Putri Nurhaliza; Rini Antika; Rita Annisa Dewi; Akbar Mardho Tillah
Jurnal Pesona Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Vol.2 No.1 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/peson.v2i1.31

Abstract

Pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi permasalahan lingkungan yang cukup serius di berbagai wilayah pedesaan, termasuk di Desa Batu Gajah, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, seperti sisa sayuran dan kulit buah, umumnya dibuang langsung ke lingkungan tanpa melalui proses pengolahan yang tepat. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran tanah, air, dan udara, serta menimbulkan bau tidak sedap yang dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan sampah yang sederhana, mudah diterapkan, dan ramah lingkungan oleh masyarakat. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 46 Universitas Abdurrab dilaksanakan dengan tujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah rumah tangga melalui pembuatan eco enzyme sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode deskriptif partisipatif dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari sosialisasi, pelatihan pembuatan eco enzyme, hingga pemanfaatan produk yang dihasilkan. Proses pembuatan eco enzyme dilakukan dengan cara memfermentasi sampah organik berupa kulit buah dan sayuran dengan gula merah atau gula pasir serta air bersih dalam perbandingan 3:1:10. Campuran tersebut kemudian disimpan dalam wadah tertutup selama kurang lebih tiga bulan hingga proses fermentasi selesai. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa eco enzyme yang dihasilkan memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai pembersih alami yang ramah lingkungan, pupuk cair organik bagi tanaman, serta penghilang bau pada lingkungan sekitar. Selain itu, kegiatan ini mampu mengurangi volume sampah organik rumah tangga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Program ini juga memberikan dampak sosial ekonomi melalui peluang usaha berbasis produk ramah lingkungan serta mendorong terbentuknya budaya daur ulang di masyarakat Desa Batu Gajah.
ANALISIS KETIMPANGAN GENDER DALAM FILM LEMBAYUNG (2024) KARYA BAIM WONG: (SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Rita Annisa Dewi; Suci Shinta Lestari; Fenny Anita
Journal of Integrated Knowledge and Innovation Vol. 2 No. 1 (2026): Vol.2 No.1 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tabusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiki.v2i1.39

Abstract

Ketimpangan gender masih menjadi permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia. Meskipun Indeks Ketimpangan Gender (IKG) menunjukkan tren penurunan, perempuan masih menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan dalam aspek sosial, budaya, pendidikan, dan relasi kekuasaan akibat kuatnya budaya patriarki. Fenomena tersebut juga direpresentasikan dalam media film, salah satunya film Lembayung (2024) karya Baim Wong yang menampilkan pengalaman perempuan dalam menghadapi subordinasi, kekerasan, dan dominasi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi ketimpangan gender dalam film Lembayung menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Data primer berupa film Lembayung, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, dan literatur yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan studi pustaka, kemudian dianalisis menggunakan konsep denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Lembayung merepresentasikan berbagai bentuk ketimpangan gender, seperti subordinasi, kekerasan berbasis gender, kekerasan seksual, kekerasan psikologis, beban reproduksi, dan penyalahgunaan kekuasaan oleh tokoh laki-laki. Pada tingkat denotasi, film menampilkan tindakan pelecehan, ancaman, dan kekerasan terhadap perempuan. Pada tingkat konotasi, tindakan tersebut mencerminkan relasi kuasa yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Sementara pada tingkat mitos, film menggambarkan kuatnya ideologi patriarki yang melanggengkan ketidakadilan gender dalam kehidupan sosial.