Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung
Vol. 15 No. 2 (2024): JPA : Jurnal Pendidikan Agama

Persepsi Masyarakat Terhadap Upacara Otonan Anak Di Bandar Lampung

Ni Gusti Ayu Made Afrianti (Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung)
Wayan Suryani (Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung)



Article Info

Publish Date
09 Sep 2024

Abstract

Pengalaman umat Hindu di Bali terhadap ajaran agama dan tradisinya, dengan jelas dapat disaksikan melalui pelaksanaan upacara keagamaan. Upacara-upacara keagamaan di Bali yang tercakup dalam Manusia Yadnya, banyak mempergunakan sarana berupa upakara dan banten. Contoh Upacara Manusia yadnya salah satunya adalah upacara otonan pada anak, yaitu memperingati hari kelahiran seseorang menurut pawukon, Panca Wara dan Sapta Wara. Upacara kelahiran dalam umat Hindu di Bali dilaksanakan setelah bayi lahir sampai 210 hari atau disebut juga otonan. Pelaksanaannya merupakan bukti rasa syukur kepada Ida Sang Hyang widhi, dan para leluhur atas keturunan darah yang sudah diberikan, agar selalu ingat pada diri sendiri, di mana kita berada, berapa usia kita, untuk menjadi anak-anak yang suputra yang selalu berpegang teguh pada ajaran Dharma.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah persepsi masyarakat terhadap upacara otonan anak di Bandar lampung. Dalam penelitian ini penulis menggunakah teori religi dan teori makna guna untuk memahami lebih dalam tentang persepsi masyarakat terhadap upacara otonan anak. Pengumpulan data dengan tehnik observasi, tehnik wawancara dengan beberapa nara sumber atau informan yangpenulis pilih sesuai dengan judul skripsi., dan dokumentasi, metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, masyarakat di Bandar lampung mempunyai persepsi yang hampir sama terhadap upacara otonan anak, upacara otonan adalah bagian dari Manusia Yadnya, yaitu korban suci yang dipersembahkan dengan tulus ikhlas demi keselamatan keturunan, membentuk anak-anak yang suputra dan suputri. Diperingati setiap 210 hari, berdasarkan pawukuan terdiri dari 30 wuku, sapta wara yang terdiri dari tujuh hari, dan panca wara yang berjumlah lima, sangat penting dan wajib untuk di peringati sesuai dengan perhitungan kalender Bali. Yang mempunyai tujuan utama adalah memperintati hari kelahiran, sebagai pebersihan dan penyucian diri lahir dan batin secara sekala dan niskala. Memohon keselamatan dan perlindungan Nya. Menetralisir pengaruh-pengaruh yang tidak baik yang ada pada diri manusia dan mengentaskan derita bawaan pada kelahiran sebelumnya.

Copyrights © 2024






Journal Info

Abbrev

JPA

Publisher

Subject

Description

Jurnal Pendidikan Agama diterbitkan dua kali dalam satu tahun, yaitu bulan Maret dan September. Sebagai Perguruan Tinggi Swasta, STAH Lampung ikut melaksanakan pembangunan dibidang pendidikan, sehingga mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia Hindu. Dalam ...