Penelitian ini bertujuan untuk mengonstruksi relasi manusia dan alam dengan menggunakan pendekatan ekokritik. Permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah melihat bagaimana bahasa puitik yang bekerja dalam membangun kesadaran ekologis, representasi relasi manusia dan alam serta kritik terhadap paradigma pembangunan yang eksploitatif. Sumber data penelitian berupa puisi “Lembah Anai” dan “Sungai Siak” karya Raudal Tanjung Banua yang terdapat dalam kumpulan puisinya yang berjudul Jejak Lintasan (2024). Data penelitian berupa diksi ekologis yang berkaitan dengan alam, sungai, hutan, air, dan relasi manusia dengan lingkungan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat dengan mengidentifikasi metafora, citraan, dan simbol ekologis dalam teks. Hasil analisis ekokritik terhadap puisi Lembah Anai dan Sungai Siak menunjukkan bahwa kedua puisi tersebut menghadirkan alam bukan sekadar sebagai latar estetis, melainkan sebagai entitas hidup yang memiliki nilai ekologis, historis, spiritual, dan emosional. Melalui penggunaan bahasa puitik berupa metafora, simbol, personifikasi, dan citraan alam, penyair membangun kesadaran ekologis yang menempatkan manusia dan alam dalam relasi yang saling terhubung. Alam direpresentasikan sebagai ruang hidup yang memiliki sensitivitas, memori, dan makna spiritual sehingga tidak dapat direduksi hanya sebagai objek eksploitasi pembangunan modern. Penelitian ini memperlihatkan bahwa puisi dapat menjadi bentuk resistensi terhadap dominasi antroposentrisme dan paradigma pembangunan kapitalistik yang destruktif terhadap lingkungan.
Copyrights © 2026