Artikel ini mendeskripsikan praktik baik penerapan kolaborasi model Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) pada pembelajaran seni rupa untuk meningkatkan kreativitas siswa kelas VI sekolah dasar melalui pemanfaatan limbah kardus. Praktik baik ini dilaksanakan karena kreativitas siswa dalam berkarya masih relatif rendah dan pemanfaatan bahan di sekitar sekolah sebagai media pembelajaran belum optimal. PBL digunakan pada tahap awal pembelajaran untuk memfasilitasi siswa mengidentifikasi masalah lingkungan terkait limbah kardus, merumuskan alternatif solusi, dan menumbuhkan kesadaran terhadap penggunaan bahan bekas. Selanjutnya, PjBL diterapkan pada tahap pelaksanaan proyek agar siswa dapat mewujudkan solusi tersebut menjadi karya seni yang kreatif, bernilai guna, dan kontekstual. Artikel ini menggunakan metode best practice dengan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan pengalaman langsung guru dalam proses pembelajaran. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas siswa, dokumentasi hasil karya, dan refleksi pembelajaran. Hasil praktik baik menunjukkan bahwa kolaborasi PBL dan PjBL mampu meningkatkan kreativitas siswa, ditandai oleh munculnya ide-ide baru, keberanian memilih desain, keterampilan mengolah kardus bekas, serta kemampuan menghasilkan karya yang bervariasi. Selain itu, pembelajaran juga mendorong keaktifan, kerja sama, dan kepedulian siswa terhadap lingkungan. Dengan demikian, kolaborasi PBL dan PjBL layak dijadikan alternatif strategi pembelajaran seni rupa di sekolah dasar untuk mengembangkan kreativitas siswa secara bermakna.
Copyrights © 2026