Penelitian ini bertujuan menggambarkan relasi kuasa dalam interaksi sutradara dan aktor pada proses latihan drama mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia semester 4 kelas 4C Universitas PGRI Palembang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough yang mencakup dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Data penelitian berupa tuturan sutradara dan aktor yang muncul selama proses latihan drama. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi video, voice note, dan transkripsi tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi kuasa tampak melalui penggunaan bahasa berupa perintah, teguran, kritik, larangan, arahan, dan evaluasi. Sutradara menempati posisi dominan sebagai pengarah artistik, sedangkan aktor berperan menerima, menegosiasikan, dan melaksanakan arahan sesuai kebutuhan latihan. Namun, relasi kuasa tidak selalu berlangsung satu arah karena terdapat ruang diskusi dan negosiasi pada aspek teknis latihan. Dengan demikian, bahasa dalam latihan drama berfungsi sebagai sarana komunikasi sekaligus alat untuk membentuk, merepresentasikan, dan menegosiasikan kekuasaan dalam praktik sosial seni pertunjukan.
Copyrights © 2026