Mpa’a Lanca atau yang dikenal juga dengan sebutan atraksi adu betis merupakan salah satu kesenian tradisional tertua masyarakat Suku Sambori di Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, yang hingga kini masih dijaga sebagai bagian dari upacara penyambutan tamu, pernikahan, dan khitanan. Pengabdian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian kesenian Mpa’a Lanca, mengidentifikasi tantangan pelestariannya, serta merumuskan strategi pemanfaatannya sebagai daya tarik wisata budaya di Desa Sambori. Pengabdian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam kepada tokoh adat dan pelaku seni, dokumentasi, serta studi pustaka. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa Mpa’a Lanca dimainkan oleh empat orang laki-laki dewasa dengan iringan gendang, gong, dan serunai (sarone), namun keberlangsungannya kini terancam akibat menurunnya regenerasi pelaku, minimnya dokumentasi, dan lemahnya promosi. Upaya pelestarian yang dapat dilakukan meliputi pewarisan melalui sanggar seni dan muatan lokal sekolah, dokumentasi audio-visual, penguatan peran tokoh adat, serta sinergi dengan pemerintah desa dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Adapun strategi pengembangan wisata budaya mencakup penjadwalan pertunjukan rutin, promosi digital, pengemasan paket wisata terintegrasi dengan kampung adat Uma Lengge, dan pelatihan pemandu wisata lokal. Pelestarian Mpa’a Lanca diharapkan tidak hanya menjaga identitas budaya masyarakat Sambori, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata budaya.
Copyrights © 2026