Penelitian ini bertujuan membongkar strategi komunikasi publik Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam isu cadangan BBM nasional 23 hari melalui Analisis Wacana Kritis (AWK) model Teun A. van Dijk. Fokus analisis terletak pada pernyataan Menteri yang mengklarifikasi bahwa angka 23 hari bukan penanda habisnya pasokan, melainkan berkaitan dengan daya tampung dan sirkulasi stok BBM. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini membedah wacana dalam tiga dimensi, yaitu struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Menteri ESDM menggunakan strategi negasi intensif, analogi daya tampung, dan de-teknikalisasi untuk menggeser persepsi publik dari “krisis energi” menjadi “rutinitas logistik” yang terkendali. Secara sosiokognitif, wacana diproduksi untuk mengelola asimetri informasi, mereduksi kepanikan, dan mempertahankan legitimasi pemerintah dalam isu ketahanan energi. Temuan ini berkontribusi pada kajian komunikasi krisis pemerintahan dengan menunjukkan bahwa penyederhanaan bahasa teknis perlu diimbangi transparansi agar kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui penenangan, tetapi juga melalui keterbukaan informasi kebijakan.
Copyrights © 2026