Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman mahasiswi fujoshi dalam menghadapi stigma sosial di lingkungan sosial maupun media digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Partisipan penelitian terdiri dari tiga mahasiswi berusia 19–21 tahun yang aktif mengonsumsi konten Boy’s Love. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tahapan fenomenologi Moustakas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan memaknai konten BL sebagai bentuk hiburan dan preferensi pribadi, bukan sebagai penyimpangan identitas seksual. Meskipun demikian, partisipan mengalami stigma berupa stereotip, komentar negatif, ejekan, dan penilaian moral dari lingkungan sosial maupun media digital. Dampak yang dirasakan meliputi rasa takut, malu, cemas, serta kecenderungan menyembunyikan identitas sebagai fujoshi. Strategi coping yang dilakukan yaitu membatasi keterbukaan diri dan mencari dukungan melalui komunitas daring. Temuan penelitian menunjukkan bahwa stigma sosial terhadap fujoshi berkaitan dengan penerimaan diri, identitas sosial, dan kesehatan mental individu.
Copyrights © 2026