Kekerasan seksual di sekolah masih menjadi persoalan serius karena dapat muncul melalui ucapan, sentuhan, isyarat, relasi kuasa, dan media digital yang menghilangkan rasa aman peserta didik. Kajian terdahulu banyak menekankan sosialisasi sesaat, sedangkan integrasi pendidikan seksual, budaya sekolah aman, pelaporan ramah korban, peran guru, orang tua, dan TPPK belum dibahas secara utuh. Rumusan masalah artikel ini ialah bagaimana upaya mencegah kekerasan seksual di sekolah, dengan tujuan merumuskan model pencegahan berbasis ekologi sekolah secara konkret. Data diolah melalui studi pustaka kualitatif dengan menyeleksi jurnal, regulasi, dan dokumen kasus, lalu dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, triangulasi sumber, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan enam unsur pencegahan utama, yaitu literasi tubuh, literasi digital, psikoedukasi, pelatihan guru, pelibatan orang tua, serta kanal pelaporan dan pendampingan korban. Kajian ini menyimpulkan bahwa pencegahan efektif harus mengubah sekolah dari ruang reaktif menjadi ekosistem preventif yang aman, terukur, dan berpihak pada martabat peserta didik secara berkelanjutan melalui kerja sama sekolah, keluarga, masyarakat, dan lembaga perlindungan anak terdekat.
Copyrights © 2026